Tempalak Mirah di Ambang Kepunahan, BRIN-UBB Siapkan Riset Domestikasi dan Restocking


Tempalak mirah (Betta burdigala), ikan endemik Pulau Bangka berwarna merah marun yang kini berstatus Critically Endangered dan menjadi fokus riset domestikasi serta pemulihan populasi
( BWAQuatics / Anh Tran ) 

PANGKALPINANG, INDONESIA - Populasinya menyusut, habitatnya kian terfragmentasi, dan ruang hidupnya tercabut pelan-pelan dari rawa gambut Pulau Bangka. Ikan kecil bernama tempalak mirah dikenal secara ilmiah sebagai Betta burdigala kini masuk radar prioritas konservasi setelah dikategorikan Critically Endangered (sangat terancam punah) oleh IUCN. 

Kolaborasi terbaru antara Pusat Riset Zoologi Terapan BRIN dan Fakultas Pertanian, Perikanan, dan Kelautan Universitas Bangka Belitung (UBB) mencoba menjawab pertanyaan yang selama ini menggantung dalam upaya penyelamatan spesies endemik: bagaimana memulihkan populasi tanpa mengorbankan keragaman genetik dan tanpa menutup mata dari akar masalah di habitat alaminya. 

Spesies Endemik, Sebaran Sempit

Di atas kertas, Betta burdigala punya alamat yang nyaris mustahil ditawar. IUCN menilai spesies ini berstatus kritis karena sebarannya sangat terbatas pada satu kawasan hutan rawa gambut di Pulau Bangka, dengan area of occupancy (AOO) sekitar 4–10 km², serta berada pada satu lokasi yang rentan terdampak ancaman berbasis habitat. Intinya: satu gangguan besar bisa mengunci masa depan spesies ini. 

Dalam terminologi IUCN, kategori Vulnerable, Endangered, dan Critically Endangered masuk kelompok “threatened” (terancam). Betta burdigala sudah berada di tingkat paling gawat dalam kelompok itu. 

Tekanan Habitat: Dari Gambut ke Lahan Produksi

Sejumlah laporan media dan komunitas lokal menempatkan perubahan tutupan lahan sebagai salah satu penekan terbesar bagi tempalak mirah. Di Bangka Selatan, habitat rawa gambut dan sungai kecil—tempat ikan ini bertahan—dilaporkan terdampak perluasan aktivitas manusia, mulai dari ekspansi kebun sawit hingga aktivitas pertambangan timah yang mengubah lanskap dan kualitas perairan. 

Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan, menurut laporan ANTARA, bahkan sempat meminta perusahaan sawit menghentikan perluasan di wilayah tertentu sebagai bagian dari upaya menyelamatkan habitat tempalak mirah di Desa Bikang, sebuah sinyal bahwa perlindungan spesies ini tak bisa dilepaskan dari kebijakan tata ruang dan pengelolaan bentang alam. 

Strategi Domestikasi, Hatchery, Genetika

Kerja sama BRIN dan UBB menempatkan domestikasi sebagai pintu masuk—bukan sekadar untuk “membiakkan” ikan, tetapi untuk memastikan pemulihan populasi tidak memiskinkan keragaman genetiknya. Tim riset menyusun program pemindahan awal ke lingkungan terkontrol, lalu menguji efektivitas hatchery serta menyiapkan restocking dengan pemantauan keragaman genetik sebagai indikator utama. 

Peneliti BRIN MH Fariduddin Ath-Thar menekankan domestikasi penting untuk mengembalikan eksistensi spesies sekaligus menjaga keragaman genetik populasi liar, sementara Ahmad Fahrul Syarif dari UBB menautkan pemulihan populasi dengan habitat asalnya, sebuah penegasan bahwa pelepasliaran tanpa ekosistem yang pulih hanya akan menjadi siklus tambal-sulam. 

Riset ini juga diposisikan sebagai model: pendekatan genetika yang sama dapat ditiru untuk spesies endemik lain di Indonesia, terutama yang hidup di habitat rapuh dan sulit dipantau dengan metode konvensional. 

Data Baru, Cara Baru Membaca Keanekaragaman

UBB sebelumnya juga terlibat penelitian berbasis environmental DNA (eDNA) metabarcoding bersama Universitas Airlangga untuk melacak ikan endemik Bangka di habitat kompleks seperti rawa gambut dan “sungai hitam”. Metode ini memungkinkan deteksi spesies lewat jejak DNA di air tanpa perlu menangkap atau mengganggu ikan secara langsung. Dalam daftar spesies yang disebut sebagai contoh ikan langka di Pulau Bangka, Betta burdigala muncul bersama Parosphromenus deissneri dan Sundadanio gargula. 

Di titik ini, riset BRIN-UBB dan kerja eDNA memberi pesan yang sama: konservasi spesies kecil butuh lompatan teknologi, tetapi juga keberanian untuk menata ulang cara mengelola habitat.

Kunci yang Tak Bisa Dihindari: Melindungi Rawa Gambut

Di banyak proyek konservasi, pembiakan dan pelepasliaran sering menjadi tajuk paling mudah dijual. Namun pada spesies dengan sebaran sangat sempit, persoalannya sederhana sekaligus keras: habitat menentukan segalanya. IUCN menyebut degradasi dan pembukaan hutan rawa gambut sebagai ancaman yang sangat mungkin berdampak pada spesies ini. 

Artinya, kerja laboratorium perlu berjalan paralel dengan agenda lapangan: pemulihan hidrologi gambut, pencegahan pencemaran, penegakan aturan di kawasan rentan, hingga tata kelola aktivitas ekstraktif. Tanpa itu, domestikasi bisa berubah menjadi “museum hidup” yang menyelamatkan individu, tetapi kehilangan alam yang seharusnya menjadi rumahnya.

============

Tag : #BettaBurdigala, #IkanEndemikBangkaBelitung, #KonservasiBRINUBB, #TempalakMirah BangkaSelatan, #RawaGambutDanPenambanganTimah

============

Content Writer
Raynold Anthonio Sebastian

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال