PANGKALPINANG, INDONESIA - Indonesia bersiap memasuki bab baru dalam proyeksi kekuatan lautnya: sebuah kapal induk ringan eks-Italia, ITS Giuseppe Garibaldi, dikabarkan akan berpindah tangan lewat skema hibah dan ditargetkan tiba sebelum HUT TNI pada 5 Oktober 2026. Namun, di kawasan yang sudah lebih dulu mengenal kapal induk mini HTMS Chakri Naruebet milik Thailand, pertanyaannya cepat bergeser dari sekadar punya atau tidak menjadi mampu dipakai untuk apa, dengan sayap udara apa, dan berapa biaya menyalakannya.
Status Akuisisi Garibaldi dan Garis Besar Rencana Operasi
Kementerian Pertahanan menyatakan Giuseppe Garibaldi merupakan hibah dari Pemerintah Italia, tetapi tetap menuntut anggaran Indonesia untuk retrofit/penyesuaian agar sesuai kebutuhan operasi TNI AL. Kepala Biro Humas dan Informasi Kemhan, Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, menyebut anggaran itu disiapkan untuk “retrofitting atau penyesuaian” menyangkut kebutuhan operasional.
Di sisi pengguna, KSAL Laksamana TNI Muhammad Ali menyampaikan target kedatangan sebelum 5 Oktober 2026 dan menyebut negosiasi masih berjalan dengan galangan Fincantieri dan Angkatan Laut Italia sebagai operator sebelumnya. Dalam pernyataan lain, Ali juga menyebut fokus pemanfaatan kapal ini diarahkan terutama untuk operasi militer selain perang (OMSP), meski terbuka untuk misi terkait tempur.
Chakri Naruebet Bukan Sekadar Kapal Induk Kosong
Thailand sudah hampir tiga dekade mengoperasikan Chakri Naruebet—dipesan 1992 dan masuk dinas 1997—yang desainnya berbasis Príncipe de Asturias Spanyol. Pada kertas, kapal ini punya ski-jump untuk pesawat V/STOL, tetapi armada AV-8S Matador Thailand dipensiunkan pada 2006 karena persoalan suku cadang, sehingga kapal ini pada praktiknya berfungsi sebagai helikopter carrier.
Dalam beberapa tahun terakhir, citra “kapal lebih sering sandar” perlahan digantikan oleh peran yang lebih konkret: platform maritime surveillance, SAR, dan bantuan bencana. Bahkan pada krisis banjir selatan Thailand akhir 2025, Chakri Naruebet dikerahkan sebagai pusat komando terapung, rumah sakit terapung, hingga basis udara terapung yang menampung helikopter dan (dalam narasi resmi operasi) dukungan pengiriman lewat wahana nirawak.
Garibaldi Lebih Warship, Chakri Lebih Utility
1) Ukuran dan performa dasar
Secara dimensi, keduanya berada di kelas kapal induk ringan. Chakri Naruebet memiliki full load displacement sekitar 11.486 ton dan panjang 182,6 meter, dengan kecepatan sekitar 25–26 knot.
Sementara Giuseppe Garibaldi panjangnya 180,2 meter dan full load sekitar 14.150 ton (pasca modernisasi), dengan kecepatan puncak 30 knot.
2) Sayap udara
Perbedaan paling menentukan bukan pada dek, melainkan apa yang akan mendarat dan lepas landas dari dek itu. Chakri dirancang untuk V/STOL, tetapi sejak 2006 hanya mengoperasikan helikopter.
Garibaldi sejak awal didesain untuk campuran pesawat STOVL (AV-8B Harrier) dan helikopter, dengan kapasitas hingga sekitar 18 pesawat/heli tergantung konfigurasi. Dalam konteks Indonesia, skema hibah dan rencana retrofit belum otomatis menjawab komponen paling mahal: pengadaan dan pemeliharaan pesawat sayap tetap berbasis kapal, plus rantai pelatihan pilot-dek, teknisi, suku cadang, serta prosedur keselamatan penerbangan kapal induk.
3) Persenjataan dan sensor
Jika Chakri lebih sering dibaca sebagai “platform utilitas” untuk HADR/SAR, Garibaldi sejak lahir membawa profil lebih “tempur” ala aircraft-carrying cruiser: dari peluncur rudal pertahanan udara (kelas Sea Sparrow/Aspide), CIWS, hingga tabung torpedo anti-kapal selam, serta paket sensor dan EW yang lebih padat (sebagian sistem juga mengalami perubahan pasca upgrade).
Ini membuat Garibaldi berpotensi tampil sebagai flagship yang lebih “berlapis” secara organik—meski kemampuan akhirnya tetap ditentukan oleh modernisasi sistem, integrasi jaringan tempur, dan konsep operasi setelah retrofit.
Dek Penerbangan Tanpa Ekosistem Bisa Berujung Simbolik
Kasus Thailand sering dijadikan rujukan tentang gap antara kepemilikan dan kapabilitas: kapal induk ada, tetapi sustained operations mahal—dan tanpa pesawat sayap tetap, “kapal induk” berubah fungsi menjadi helikopter carrier yang kuat untuk tugas kemanusiaan namun terbatas untuk daya gentar berbasis udara.
Di Indonesia, sinyal resmi justru menempatkan Garibaldi pada OMSP terlebih dahulu—sebuah framing yang lebih realistis untuk negara kepulauan rawan bencana. Namun, di sisi lain, sejumlah analis juga mempertanyakan prioritas belanja dan beban jangka panjang kapal induk (mulai dari kru, pemeliharaan, hingga pengawalan kapal dan logistik) dibanding kebutuhan pertahanan lain yang lebih mendesak.
Garibaldi Unggul di Kertas, Ujian Indonesia Ada di Operasi
Jika dilihat hardware, Giuseppe Garibaldi tampak menawarkan kelas yang lebih tinggi ketimbang Chakri Naruebet—lebih berat, lebih cepat, lebih lengkap sebagai kapal perang.
Tetapi pelajaran kawasan menunjukkan, pembeda sejati ada pada tiga hal: (1) sayap udara, (2) kesiapan anggaran operasi tahunan, dan (3) doktrin apakah kapal dipakai untuk HADR, patroli/ISR, komando, atau benar-benar proyeksi kekuatan. Tanpa tiga faktor itu, Indonesia berisiko mengulang pola “dek besar, jam terbang kecil” yang pernah menempel pada pengalaman Thailand.
============
Tag : #KapalIndukIndonesia, #GiuseppeGaribaldi, #CharkiNaruebet, #TNIAL, #ModernisasiAlutsista
============
Content Writer
Raynold Anthonio Sebastian
