Pekerjaan Baru Menumpuk di Sektor Upah Rendah


Pengangguran turun, tetapi data menunjukkan pekerjaan baru banyak tumbuh di sektor berupah rendah dan jam kerja pendek—membuat kualitas kerja jadi sorotan
( Unsplash / Jeriden Villegas )

PANGKALPINANG, INDONESIA - Angka pengangguran turun, jumlah orang bekerja naik. Namun di balik headline yang tampak “positif”, komposisi pekerjaan yang tumbuh justru memberi sinyal lain: pekerjaan baru banyak terserap di sektor-sektor dengan rata-rata upah lebih rendah dan jam kerja yang tidak selalu penuh. Data terbaru BPS menunjukkan kenaikan pekerja terbesar pada periode Agustus–November 2025 terjadi di penyediaan akomodasi dan makan minum (+0,381 juta orang), sektor yang rata-rata upahnya berada di bawah rata-rata nasional.

Data BPS Menggambarkan Dua Wajah Pasar Kerja

BPS mencatat jumlah penduduk bekerja pada November 2025 mencapai 147,91 juta orang (naik 1,371 juta dari Agustus 2025). Pada saat yang sama, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) turun menjadi 4,74%. Rata-rata upah buruh/pegawai tercatat Rp3,33 juta per bulan.

Namun, BPS juga mencatat porsi pekerja yang belum sepenuhnya “mapan” dari sisi jam kerja. Infografik BPS menunjukkan pekerja tidak penuh (1–34 jam per minggu) mencapai 47,42 juta orang (32,06%), sementara pekerja penuh (>35 jam) 100,50 juta orang (67,94%).

Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti, menyebut penurunan TPT menjadi 4,74% sejalan dengan bertambahnya angkatan kerja dan naiknya jumlah bekerja dalam tiga bulan terakhir.

Mengapa Pekerjaan Bergaji Rendah Bertambah?

1) Mesin pencipta kerja bergerak di sektor jasa berupah rendah

Kenaikan tenaga kerja terbesar terjadi di akomodasi dan makan minum (+0,381 juta). Di saat yang sama, sektor ini masuk kelompok rata-rata upah terendah menurut infografik BPS: Rp2,57 juta per bulan, lebih rendah dari rata-rata nasional Rp3,33 juta.

BPS juga menempatkan “aktivitas jasa lainnya” sebagai rata-rata upah terendah (Rp1,96 juta), serta pertanian/kehutanan/perikanan (Rp2,47 juta). Artinya, ketika pertumbuhan lapangan kerja didorong oleh sektor-sektor seperti ini, tambahan pekerjaan yang tercipta cenderung masuk kategori “low pay” secara statistik.

2) Jam kerja pendek membuat pendapatan ikut pendek

Kenaikan orang bekerja tidak otomatis berarti kenaikan pendapatan rumah tangga. Dengan 32,06% pekerja bekerja <35 jam/minggu, banyak orang secara status “bekerja” tetapi secara pendapatan belum tentu berada pada tingkat layak. Fenomena ini lazim muncul saat ekonomi menyerap tenaga kerja lewat kerja paruh waktu, kerja musiman, atau kerja serabutan.

3) Informalitas dan kerja rentan masih dominan

Sejumlah laporan media yang merujuk pemaparan BPS menyebut pekerja informal masih sekitar 57,7% pada November 2025. Jika akurat, dominasi ini biasanya berkorelasi dengan perlindungan kerja yang lebih lemah dan daya tawar upah yang lebih tipis—dua faktor yang mendorong banyak pekerjaan berupah rendah bertahan dan bertambah.

Di level riset, Bank Dunia menilai tantangan informality di Indonesia bersifat menahun dan perlu ditangani untuk menopang agenda menuju status negara berpendapatan tinggi, dengan catatan bahwa informalitas berdampak pada kualitas pekerjaan dan perlindungan pekerja.

4) Ekonomi platform memperluas kerja fleksibel, tapi upah mudah tertekan

Pertumbuhan kerja berbasis aplikasi (pengantaran, ride-hailing, pekerja lepas online) memperbanyak “pintu masuk” ke pasar kerja—terutama saat pekerjaan formal sulit dicari. Bank Dunia, dalam laporan yang diberitakan AP, memperkirakan jumlah pekerja gig online global bisa mencapai 435 juta dan permintaan gig meningkat 41% (2016 hingga kuartal I 2023), tetapi kekhawatiran utamanya adalah minimnya perlindungan dan standar kerja.

Di Indonesia, laporan Fairwork menggambarkan tekanan pendapatan pengemudi platform: survei di Jabodetabek yang dikutip laporan itu menunjukkan rata-rata pendapatan kotor harian pengemudi turun tajam dibanding sebelum pandemi dan pemulihannya belum kembali ke level pra-2020.

5) Hilangnya pekerjaan kelas menengah

Secara global, OECD mencatat tren job polarisation: porsi pekerjaan keterampilan menengah menyusut relatif terhadap pekerjaan berupah tinggi dan berupah rendah—dipengaruhi otomatisasi, offshoring, dan perubahan struktur ekonomi. Ketika lapangan kerja kelas menengah menyempit, pasar kerja cenderung “mengembang” di dua ujung: pekerjaan elit dan pekerjaan berupah rendah.

Analisis East Asia Forum juga menyoroti paradoks serupa di Indonesia: penciptaan kerja tinggi, tetapi isu yang menonjol adalah kualitas pekerjaan, termasuk informalitas, upah yang stagnan, dan underemployment yang membatasi mobilitas naik kelas.

Statistik Bekerja Naik, Kelas Menengah Tak Otomatis Menguat

Dengan tambahan kerja yang banyak terserap di sektor berupah rendah, ekonomi bisa mencatat penurunan pengangguran, tetapi pada saat bersamaan menghadapi problem baru: pendapatan yang tipis, rentan guncangan, dan sulit menabung. Pada titik ini, jumlah pekerjaan tidak lagi cukup sebagai indikator tunggal yang dipertanyakan adalah mutu kerja.

============

Tag : #KetenagakerjaanIndonesia, #UpahBuruh, #PekerjaInformal, #GigEconomy, #PekerjaanBergajiRendah

============

Content Writer
Raynold Anthonio Sebastian

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال