PANGKALPINANG, INDONESIA - Federasi Sepak Bola Inggris (The Football Association/FA) menjatuhkan sanksi larangan memasuki stadion selama enam pertandingan kepada Richard Bone, staf perlengkapan tim utama Reading, menyusul temuan pelanggaran disiplin yang dikategorikan sebagai aggravated breach karena memuat rujukan secara tersurat maupun tersirat pada orientasi seksual. Selain larangan stadion, Bone juga didenda £200 dan diwajibkan mengikuti program edukasi.
Larangan Stadion Enam Laga, Denda, dan Program Edukasi
Dalam ringkasan putusan yang dipublikasikan FA pada 5 Februari 2026, sebuah Komisi Regulasi Independen menyatakan Bone melanggar FA Rule E3. Komisi menilai terdapat unsur “kata-kata menghina dan/atau abusif” serta rujukan pada orientasi seksual yang membuat kasus ini masuk kategori pelanggaran yang diperberat.
Dokumen “Written Reasons and Decision” menyebut sanksi larangan stadion tersebut berlaku sebagai standard ground ban, yakni melarang individu memasuki stadion (dan area sekitar stadion) pada rentang waktu tertentu di hari pertandingan—mulai tiga jam sebelum sepak mula hingga tiga jam setelah laga berakhir—sampai Reading menuntaskan enam pertandingan kompetitif tim utama.
Komisi juga menetapkan denda sebesar £200 serta perintah edukasi yang harus diselesaikan paling lambat 22 Mei 2026. Jika program edukasi tidak dipenuhi dalam tenggat itu, Bone terancam “suspensi segera dan tanpa batas waktu” dari seluruh aktivitas sepak bola sampai kewajiban tersebut dipenuhi sesuai standar FA.
Dari Laga Agustus hingga Putusan Januari
Perkara ini berakar pada pertandingan EFL League One antara Reading dan Huddersfield Town pada 9 Agustus 2025. FA mengajukan dakwaan resmi melalui surat bertanggal 11 Desember 2025, dan komisi menggelar sidang pada 22 Januari 2026 secara daring melalui Microsoft Teams.
Dalam dokumen putusan, komisi mencatat bahwa komentar Bone mengenai wasit Matt Corlett terdengar oleh ofisial keempat Harrison Blair dan kemudian dilaporkan selepas pertandingan. Laporan juga diperkuat oleh catatan dari petugas keamanan pertandingan (Head Safety Steward) Reading, yang disebut menuliskan ulang “bahasa yang digunakan” dalam insiden tersebut.
Bone mengakui dakwaan dan tidak meminta sidang tatap muka, sehingga perkara diproses melalui paper hearing (pemeriksaan berkas). Komisi kemudian menyimpulkan bahwa pernyataan yang disampaikan—yang dalam dokumen dicatat mengandung ungkapan seksual vulgar—secara objektif termasuk penghinaan/abuse dan memenuhi unsur pelanggaran E3.1 serta E3.2.
Batas Bawah yang Tetap Dianggap Serius
FA Rule E3.2 menegaskan bahwa pelanggaran E3.1 menjadi aggravated breach bila mengandung rujukan pada karakteristik yang dilindungi, termasuk orientasi seksual. Dalam pedoman sanksi yang dikutip komisi, rentang hukuman untuk pelanggaran yang diperberat berada pada 6–12 pertandingan, dengan enam pertandingan sebagai standard minimum.
Komisi menilai ada faktor memberatkan karena komentar itu terjadi di ruang publik. Namun, komisi juga mencatat sejumlah faktor meringankan: pengakuan pada kesempatan pertama, penyesalan, insiden sekali terjadi tanpa indikasi perencanaan, kerja sama sepanjang proses, serta tidak adanya riwayat pelanggaran dalam musim berjalan dan lima musim sebelumnya.
Menariknya, komisi menyatakan kasus ini berada “di sisi bawah” dari rentang pedoman, tetapi “bukan pada titik terendah”. Dalam pertimbangannya, komisi sempat menempatkan titik awal sanksi pada tujuh pertandingan, lalu menurunkannya menjadi enam setelah menimbang faktor-faktor meringankan dan pengakuan.
Sikap Klub: Mendukung Putusan dan Fokus pada Akuntabilitas
Dalam laporan yang mengutip pernyataan klub, Reading menyatakan akan mendukung pelaksanaan program edukasi dan “rehabilitasi” selama masa sanksi, dengan penekanan pada pembelajaran, akuntabilitas, dan pengembangan pribadi.
Kasus ini kembali menyorot garis tegas otoritas sepak bola Inggris dalam menindak ujaran yang bersinggungan dengan diskriminasi, bukan hanya pada pemain dan pelatih, tetapi juga staf non-teknis yang berada di lingkungan pertandingan. Di saat yang sama, putusan ini memperlihatkan bagaimana komisi disiplin bekerja: menguji unsur pelanggaran secara objektif, mengunci kategori “diperberat” saat ada rujukan pada karakteristik terlindungi, lalu menakar sanksi lewat kombinasi faktor memberatkan dan meringankan.
============
Tag : #Reading FC, #TheFootballAssociation, #FARuleE3, #LaranganStadion, #DiskriminasiDiSepak Bola
============
Content Writer
Raynold Anthonio Sebastian
