PANGKALPINANG, INDONESIA - Empat bulan jelang sepak mula Piala Dunia 2026, sebuah kota kecil di Massachusetts, Foxborough menahan izin krusial yang dibutuhkan FIFA untuk menggelar pertandingan di Gillette Stadium (yang akan dipakai dengan nama “Boston Stadium” selama turnamen). Pemicu utamanya: sengketa pendanaan keamanan dan layanan publik senilai sekitar US$7,7–8 juta (kira-kira £6 juta) yang belum memiliki kepastian penanggungnya. Tanpa izin itu, tujuh laga yang dijadwalkan di venue tersebut, termasuk laga grup Inggris dan Skotlandia, berisiko dipindahkan.
Dana Keamanan Jadi Titik Tumpu
Foxborough menilai beban pengamanan turnamen—yang berlangsung lintas hari dan melibatkan arus massa besar—tidak bisa ditanggung APBD kota. Dalam rapat dewan kota, Ketua Select Board Foxborough Bill Yukna menegaskan, “This event is not Foxborough’s event,” seraya menekankan bahwa ini adalah perhelatan “nasional—internasional” dan bukan kewajiban kota untuk membiayai kebutuhan tersebut.
Kota meminta dana tersedia di depan, bukan sekadar skema “nanti diganti.” Town manager Paige Duncan menyebut model reimburse tak realistis bagi kota: “It’s reimbursement, and we’re not in a position to put forward $7.8 million upfront and hope to be reimbursed.” Sikap ini kemudian diterjemahkan menjadi ancaman paling konkret: lisensi tidak akan keluar sebelum ada kepastian uang.
Perdebatan Siapa Bayar yang Tak Kunjung Selesai
Dalam pertemuan yang tegang di balai kota, Ketua Boston 2026 Host Committee Mike Loynd mendapat rentetan pertanyaan soal sumber dana, termasuk dari anggota dewan kota Mark Elfman yang melontarkan kalimat keras: “it baffles my mind… we still have no idea where this money’s coming from.” Foxborough menilai, tanpa jawaban, mereka diminta menanggung risiko paling besar.
Dari sisi FIFA, Kevin Clark—director of venue operations FIFA 26—menyatakan mandatnya terbatas pada urusan operasional. “We are not in a position to comment on the financial requirements,” ujarnya, seraya menyebut isu finansial perlu ditangani pihak stadion dan host city. Pernyataan itu praktis memperlebar kebuntuan: FIFA hadir, tetapi tak memberikan jaminan pembiayaan yang dituntut Foxborough.
Wakil ketua dewan kota, Stephanie McGowan, juga menyatakan posisi tanpa kompromi: “This board will not issue this license.” Di titik ini, masalahnya bukan lagi “apakah pertandingan bisa digelar,” melainkan “siapa berani menandatangani risiko.”
Deadline Maret, Ancaman Pindah Stadion Makin Nyata
Foxborough menargetkan kepastian pendanaan pada pertengahan Maret untuk bisa menerbitkan izin yang diminta. Jika tak tercapai, opsi memindahkan pertandingan ke kota tuan rumah lain menjadi skenario yang kian masuk akal—meski rumit secara logistik, komersial, dan keamanan.
Gillette Stadium sendiri dijadwalkan menggelar laga pertamanya pada 13 Juni 2026, ketika Skotlandia menghadapi Haiti. Venue ini juga masuk rencana untuk laga fase gugur, termasuk sebuah perempat final pada 9 Juli. Ketika waktu persiapan makin sempit, tarik-menarik ini berpotensi menjadi preseden buruk bagi penyelenggaraan—terutama karena inti masalahnya adalah hal paling dasar: siapa menutup biaya pengamanan.
Imbas Langsung ke Inggris dan Skotlandia
Bagi Inggris, risiko paling dekat menyasar pertandingan fase grup melawan Ghana pada 23 Juni 2026 di “Boston Stadium” (Foxborough). Jadwal ini tercantum dalam pengumuman resmi federasi sepak bola Inggris, yang menempatkan laga tersebut sebagai pertandingan kedua setelah menghadapi Kroasia.
Skotlandia, sementara itu, dijadwalkan bermain dua kali di Foxborough pada fase grup: menghadapi Haiti (13 Juni) dan Maroko (19 Juni), sebelum menutup fase grup melawan Brasil di Miami. Artinya, bila Gillette Stadium dicoret atau izinnya tak terbit, Skotlandia adalah salah satu tim yang paling terdampak karena dua laga grupnya harus dipindahkan.
Menjelang turnamen, setiap perubahan stadion berarti perubahan rute perjalanan tim, penyesuaian tiket, rencana keamanan regional, hingga koordinasi siaran. Di atas kertas, pemindahan “bisa dilakukan.” Namun di lapangan, itu berarti memindahkan ribuan detail operasional—dan menambah biaya yang justru sedang diperdebatkan.
Pada akhirnya, sengketa £6 juta ini memotret wajah lain Piala Dunia: bukan hanya soal sepak bola, tetapi juga negosiasi kekuasaan antara otoritas lokal, pemilik stadion, panitia tuan rumah, dan FIFA. Selama uangnya belum “jelas dari mana,” izin tetap terkunci—dan jadwal pertandingan tetap menggantung.
============
Tag : #PialaDunia2026, #InggrisVsGhana, #SkotlandiaVsHaiti, #GilletteStadiumBostonStadium, #FIFA26KeamananStadion
============
Content Writer
Raynold Anthonio Sebastian
